Pendahuluan

Kualitas udara dalam ruang tertutup di ruang perkantoran pada kontruksi gedung, jumlah orang, ventilasi, dan peralatan di dalamnya sebagai sumber polutan. Para karyawan menghabiskan 58-78% waktunya berada dalam ruangan itu, sehingga kualitas udara dalam gedung yang mengandung polutan akan mempengaruhi kesehatan karyawan tersebut. Kualitas udara yang baik dalam ruang mengandung porsi yang sama seperti di alam. Respons psikologis masing-masing karyawan terhadap kualitas udara ruang perkantoran yang seimbang dan aman seperti halnya kualitas udara dalam daerah industri.

Pada masa 59 tahun yang lalu ketika semua perabotan masih bersifat asli dan belum banyak rekayasa untuk pengawetan mungkin kualitas udara dalam gedung belum banyak masalah. Dewasa ini ketika beberapa produk sudah mulai memperhitungkan efisiensi dan keindahan, banyak bentuk yang dirancang dan disesuaikan dengan ruang dan ergonomi menurut bentuk yang tidak asli lagi. Perubahan bentuk untuk efisiensi ini memerlukan beberapa bahan dasar yang mudah dibentuk, maka muncullah partikel board, plywood yang menggunakan lem dan pengawet. Pada akhirnya pengaturan ruang kerja yang nyaman dan efisien akan memiliki peralatan kantor yang menyebabkan ruangan penuh dengan bahan-bahan kimia baru hasil penguapan peralatan kantor tadi.

Alat tulis dan cetak pun mengeluarkan VOC (solven) yang menguap saat digunakan. Hal ini tidak menjadi masalah pada ruang terbuka karena akan segera diencerkan. Pada ruang tertutup bahan ini perlu waktu untuk diencerkan, sehingga individu sempat terpajan uap VOC yang belum encer.

Parameter “bau“ pada kualitas udara dalam ruang termasuk dalam respons psikologis yang cukup penting untuk digunakan sebagai pendeteksi awal. Bau yang tidak diinginkan dan berlangsung menetap perlu ditindaklanjuti dengan mencari sumber bau. Demikian pula halnya dengan suhu, pencahayaan, dan kelembaban.

Sick building syndrome merupakan 20% dari keluhan yang sering diutarakanoleh pekerja dalam gedung. Keluhan yang disampaikan tidaklah gejala spesifik dan tanda yang disampaikan adalah common cold biasa atau keluhan saluran pernapasan lain. Hal tersebut disebabkan ventilasi yang tidak adekuat yang berhubungan dengan pemeliharaan air handling unit, distribusi udara kurang memadai, terjadinya insufisiensi udara segar (kurang dari 50-52%), kontaminasi dari alat-alat kantor, rokok, produk pembersih (17-19%), kontaminasi dari udara luar yang dihisap ke dalam gedung (11%), kontaminasi mikrobiologi, formaldehid, dan material solven dari materi dekorasi ruang (5%).¹

Formaldehid

Sinonim

Formaldehid mempunyai sinonim yang cukup banyak antara lain methylene oxide; formalin; diesel exhaust component; rosin core solder pyrolysis product, methanol,² metilen glikol, dan paraformaldehid.³ Zat ini berbentuk gas atau uap yang tidak berwarna dan berbau sangat kuat. Formaldehid dicampur dengan alkohol sebagai stabilizer banyak digunakan dalam laboratorium medis.

Rumus Bangun

Formaldehid dibentuk dari methanal yang dioksidasi menjadi formaldehid dengan rumus bangun HCOH.

Industri Pengguna Formaldehid

Formaldehid diproduksi sebagai bahan dasar oleh pabrik kimia dengan melakukan reaksi kimia terhadap methana. Formaldehid digunakan secara luas dalam bentuk urea-formaldehid, amino dan fenolik resin dalam industri untuk bahan kimia dasar bagi etilendiaminetetraacetic acid, metilen dianilin, hexametilentetramine, dan nitriloacetic acid.³

Hasil produksi tersebut digunakan dalam industri : particle board sebagai perekat sekaligus pengawet, beberapa industri alat rumah tangga dari kayu, industri lem itu sendiri, pelapis kertas, plywood, fungisida, bakterisida, dan desinfektan. 1,3,4 Di samping itu juga digunakan dalam industri plastik, karpet, urea-formaldehyde foam insulation, resins untuk membuat beton konstruksi, tekstil, cat, perabot, pengawetan jenazah, dan kadaver di laboratorium anatomi. Hasil pembakaran yang tidak sempurna pada hidrokarbon dan rokok juga menghasilkan formaldehid.

Standar Pajanan terhadap Formaldehid

Standar dari OSHA untuk perlindungan bagi pekerja industri dalam Title 29 of the Code of Federal Regulations (CFR) Part 1910.1048 dan peraturan lain yang sesuai dengan OSHA pada bentuk gas, campuran dengan bahan lain atau bahan lain yang mengandung formaldehid the permissible exposure limits (PELs) adalah 0,75 ppm yang diukur dalam 8 jam kerja time-weight average (TWA). Short-term exposure limit (STEL) adalah 2 ppm dalam waktu 15 menit. Surveilans kesehatan dilakukan bila kadar 5 ppm telah dilampaui.

Formaldehid juga digolongkan sebagai bahan yang dicurigai penyebab kanker dalam American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH) TLV & BEIS5 dengan batas pajanan 1 ppm TWA dan 2 ppm STEL. Dari National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) menetapkan 0,0016 ppm TWA, 0,1 ppm (15 menit).6 Pajanan yang terjadi akibat penguapan formaldehid dari bahan jadi seperti meubeler/perabot, karpet, kertas belum dapat ditentukan.

Pajanan Formaldehid pada Pekerja dalam Gedung

Konsentrasi formaldehid dalam gedung bersifat episodik dan tergantung pada suhu dan kelembaban yang menyebabkan lepasnya formaldehid dari barang-barang kayu dengan pengawet formaldehid. Kondisi ventilasi yang kurang baik akan menyebabkan makin tingginya konsentrasi.2

Barang/bahan yang menjadi perhatian utama sebagai sumber poltuan udara dalam gedung adalah barang/bahan yang terbuat dari kayu dan produk kayu lainnya yang mengandung urea formaldehid (UF) resin dan urea formaldehid foam insulation (UFFI). Emisi formaldehid dari bahan-bahan tersebut dan kurang optimalnya ventilasi akan meningkatkan konsentrasi formaldehid dalam gedung yang menyebabkan masalah pada tahun 1970-1980 di negara maju.2

Tabel. 1. Emisi Formaldehid dari Berbagai Material dalam Gedung2

Range of formaldehyde emision rates (2/day)
Medium-density fibreboard 17.600 – 55.000
Hardwood plywood paneling 1.500 – 34.000
Particleboard 2.000 – 25.000
Urea-formaldehyde foam insulation 1.200 – 19.000
Softwood plywood 240 – 720
Paper products 260 – 280
Fiberglass poducts 400 – 470
Clothing 35 – 570
Resilient flooring < 240
Carpeting 0 – 65
Upholstery fabric 0 – 7

Tabel 1 menunjukkan emisi formaldehid tertinggi berasal dari material kayu dengan pengawet, diikuti particle-board yang dibuat dari campuran partikel kayu yang dicampur dengan urea formaldehid resin dan kemudian dimampatkan (6-8% beratnya) dan dibentuk menjadi papan panel, perabot atau lainnya.2

Emisi pertama formaldehid dari semua produk kayu tersebut adalah residu formaldehid yang terperangkap dalam resin. Emisi terbesar terjadi pada produk yang masih baru dan tergantung pada ketebalan, produk, kadar formaldehid di dalamnya, sumber formaldehid lain, suhu, kelembaban, dan perilaku pekerja termasuk tataletak dan ergonominya.2 Lima puluh persen lebih emisi produk baru terjadi 8-9 bulan. Emisi kedua terjadi ketika terjadi hidrolis dari urea formaldehid resin yang dipengaruhi peningkatan suhu dan kelembaban.2,3

Sebagaian formaldehid dikonversikan menjadi CO2 lewat format, dan fraksi kecil diekskresikan ke dalam urin sebagai format dan betabolit lain. Formaldehid berinteraksi dengan makromolekul seperti DNA, RNA, dan protein yang kemungkinan merupakan penyebab efek karsinogeniknya.

Gejala dan Tanda Klinis

Pajanan Akut

Pajanan akut formaldehid menyebabkan iritasi langsung kulit dan saluran pernapasan. Dermatitis kontak alergi dan iritan terjadi mengikuti reaksi hipersensitif tipa IV (lambat). Setelah beberapa hari pajanan larutan formaldehid atau formaldehid yang mengandung resin, pekerja akan mulai mengalami reaksi urtikaria mendadak dari kulit kelopak mata, wajah, leher, dan permukaan fleksor dari lengan.4

Demokratis kontak alergi mungkin muncul pada penggunaan kosmetik, produk perawatan tubuh lain, limbah cucian, cat yang larut air, atau produk fotografi. Tidak ada hubungan antara penyakit kulit akibat formaldehid dengan riwayat atopi.

Iritasi langsung pada mata, hidung, dan tenggorokan terjadi pada beberapa orang dengan kadar 0,1 – 3 ppm dari uap formaldehid. Bau menyengat adalah dalam batas 0,05 – 1 ppm, dan beberapa individu mulai teiritasi pada ambang di atas atau di bawah kadar tersebut. Napas yang pendek, batuk, dan sesak napas terjadi pada 10 – 20 ppm. Pajanan 50 – 100 ppm dan di atasnya bisa menyebabkan edema paru, pneumonitis, atau kematian. Gejala iritasi sehubungan dengan pajanan formaldehid tidak menunjukkan respons imunologik berupa peningkatan IgE atau IgG antibodi pada formaldehid-serum albumin manusia.

Pajanan Kronis

Kanker

Karsinoma sel skuamosa epitel nasal tikus terinduksi pada pajanan di atas 2 tahun. Penyelidikan biokimia dan fisiologi pada tikus telah menunjukkan inhalasi formaldehid dapat menekan pernapasan dan menghambat pembersihan mukosiliar, menstimulasi proliferasi sel, dan cross-link DNA dengan protein dalam mukosa nasal. Beberapa studi epidemiologis menunjukkan bahwa pajanan formaldehid dapat meningkatkan insidens kanker paru, terutama pada pekerja yang terpajan berjam-jam dengan pajanan formaldehid tinggi yang terakumulasi.

Penyelidikan lain menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pajanan formaldehid dan kematian akibat keganasan penyakit saluran pernapasan. Hasil yang tidak konsisten juga didapat pada studi kanker nasofaring, tapi penemuan metaanalisis terakhir menunjukkan peningkaatan risiko pada kanker nasofaring dengan pajanan tinggi. Tiga kasus keganasan melanoma pada mukosa nasal telah dilaporkan pada pekerja yang terpajan formaldehid (group 2A). NIOSH merekomendasikan bahwa formaldehid potensial sebagai karsinogenik pada manusia.6

Asma Akibat Kerja

Telah dilaporkan hasil pajanan resin debu formaldehid terhadap pekerja dengan asma. Seorang pasien dengan pajanan formaldehid mempunyai IgE positif dan IgG titer formaldehid –serum albumin manusia dan reaksi positif pada kulit tapi negatif pada metakolin. Sebuah penyelidikan pada mahasiswa kedokteran yang terpajan formaldehid (termasuk yang asma) dilaporkan tidak didapat perubahan pada gejala atau fungksi paru selama periode 7 bulan. Tidaj ada perubahan bermaknsa pada fungsi paru atau reaksi bronkus pada subyek normal atau asma yang dites terpajan formaldehid.

Aborsi spontan pada pekerja kosmetik dan pekerja laboratorium berhubungan secara bermakna dengan penggunaan formaldehid sebagai desinfektan dan formalin.1,4

Temuan Laboratorium

Hati dan Ginjal

Tes rutin pada fungsi hati dan ginjal secara umum belum pernah diukur. Pengukuran asam formik dalam urin secara umum tidak mendukung pada pengukuran waktu paruh formaldehid yang singkat.

Kulit

Jika dicurigai dermatitits kontak, tes patch dapat dilakukan dengan konsentrasi formaldehid yang sesuai.

Sistem Pernapasan

Batuk, napas pendek, atau wheezing mungkin berhubungan dengan penururnan FEV1. Peak flow selama bekerja mungkin mengalami penurunan setelah pajanan formaldehid. Setelah pajanan 20-30 ppm formaldehid, foto rontgen dada mungkin menunjukkan edema jaringan interstitial dan alveolus dengan hasil reduksi oksigen pada analisis gas darah.

Diagnosis Banding

Di tempat kerja yang banyak gas dan uap mungkin menunjukkan gejala iritasi saluran pernafasan bagian atas. Gejala iritasi mata dan tenggorokan pada pekerja kantor mungkin bergubungan dengan ventilasi yang tidak adekuat, rokok, lem, dan solven dari alat kantor. Hubungan antara gejala dengan pengukuran kadar formaldehid dalam lingkungan tertutup (kantor) menjadi sulit.

Pencegahan

Tempat Kerja

  • Pada tempat kerja dengan formaldehid, goggles atau pelindung muka plastik sebaiknya digunakan apabila kemungkinan percikan terjadi.
  • Pada tempat dengan konsentrasi formaldehid tinggi harus digunakan respirator dengan cartridge.
  • Pakaian, sepatu boot, dan sarung tangan harus selalu dipakai pada kontak kulit.

Surveilans Kedokteran

  • Monitoring biologis dengan pengukuran konsentrasi format pada urin tidak membantu pada konsentrasi formaldehid di atas 1 ppm.
  • FEV1 dan FVC sebagai data dasar perlu dipertimbangkan.
  • Perubahan sitogenik pada sel epitel mulut dan limfosit darah berguna dalam monitoring biologis pajanan formaldehid. Perubahan mukosa nasal meliputi hilangnya bulu siliar, hiperplasa sel goblet, metaplasia sel skuamosa, dan dislapsia sedang.

Pengobatan

Dalam kasus iritasi maata dan kontak kulit, segera lakukan irigasi dengan air mengalir selama 15 menit dan hilangkan semua kontaminan pada pakaian. Segera pindahkan pasien ke udara terbuka pada pajanan inhalasi dengan oksigenasi pada gejala sesak napas dan hipoksemia. Pada pajanan formaldehid 20-3- ppm harus diobservasi selama 6-8 jam.

Penutup

Adanya formaldehid dalam gedung perkantoran didapat dari peralatan kantor dan perabot yang masih baru dimana formaldehid sebagai campuran dalam pelapis cat atau perekat, masih dalam proses penguapan. Retakan perabot lama juga akan menyebabkan kandungan formaldehidnya menguap dan mulai mencemari udara.

bahan baku atau bahan pencampur.

Daftar Pustaka

  1. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. 4th ed 1998.
  2. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. SE-01/MEN/1997 tentang Nilai Ambang Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja.
  3. Environmental and Occupational Medicine, 1992.p.2n
  4. Harrison RJ. Occupational & Environmental Medicine 1997;2n ;457.
  5. ACGIH. Threshold limit values for chemical and physical agents subsctances in the work environtment & biological exposure indices 2001;33.
  6. NIOSH. Pocket guide to chemical hazards. US Department of Health and Human Services. Public Health Services Centers for Disease Control. National Institute for Occupational Safety and Health. September 1985.p.128.